Rabu, 27 Agustus 2025


 ........Allahuma Sholi Ala Sayidina Muhamad.......


Pertanyaan dan jawaban Seputar Amaliyah Sholawat

PERTANYAAN :

Bagaimana pandangan kita jika ada orang yang mengatakan:

“ Jangan bersholawat untuk meminta urusan dunia,  malu pada Rasulullah Saw”

JAWABAN :

1. Dasar Bersholawat. Allah sendiri memerintahkan kita bershalawat kepada Nabi :

 “Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian atasnya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Ayat ini menunjukkan bahwa bershalawat itu ibadah agung  yang tidak terikat dengan urusan dunia maupun akhirat.

2. Tentang Mengaitkan Shalawat dengan Hajat Dunia

Ada sebagian orang berkata: “Jangan bershalawat untuk urusan dunia, sebab itu memalukan di hadapan Rasulullah .” Pandangan ini tidak tepat. Mengapa? Karena para ulama menjelaskan: Bershalawat itu  ibadah  dan  sarana doa. Bahkan banyak ulama menganjurkan  menjadikan shalawat sebagai wasilah (perantara)  untuk doa, baik urusan dunia maupun akhirat.

Dari Umar bin Khaththab r.a., Nabi bersabda: “Doa itu tertahan (tidak naik ke langit) sampai engkau bershalawat atas Nabi . Jika engkau bershalawat, doa pun naik.”  (HR. Tirmidzi, hasan gharib)

Ini jelas menunjukkan shalawat boleh digunakan untuk memohon hajat, termasuk urusan dunia.

 3. Riwayat Sahabat

Dalam hadis Ubay bin Ka‘b r.a. ia berkata:

 “Wahai Rasulullah, aku sering bershalawat untukmu. Berapa banyak waktuku harus ku peruntukkan untuk shalawat kepadamu?”

Nabi menjawab: “Terserah engkau.”Ubay berkata: “Seperempat?”  Nabi menjawab: “Jika engkau mau, itu baik. Tetapi jika engkau menambah, itu lebih baik.”

Hingga Ubay berkata: “Kalau begitu, akan kuperuntukkan seluruh doaku untuk bershalawat kepadamu.”  Nabi menjawab:  “Kalau begitu, Allah akan mencukupkan segala hajatmu di dunia dan mengampuni dosamu di akhirat.” (HR. Tirmidzi, Hasan Shahih)

Hadis ini sangat jelas:  shalawat bisa menjadi sebab terpenuhinya kebutuhan dunia sekaligus ampunan akhirat.

1. Bershalawat untuk hajat dunia tidak salah, bahkan dianjurkan. Karena shalawat adalah doa yang paling mulia.

2. Mengaitkan shalawat dengan permintaan dunia bukan bentuk penghinaan kepada Nabi .

Justru itu menunjukkan kita menjadikan beliau sebagai wasilah yang paling agung.

3. Yang keliru adalah : jika seseorang hanya menjadikan shalawat sebatas “alat mencari dunia” tanpa niat ibadah atau cinta kepada Nabi .

Jadi, tidak benar  bila ada yang mengatakan “malu meminta urusan dunia lewat shalawat.”

Dalilnya jelas dari hadis Ubay bin Ka‘b dan Umar bin Khaththab r.a., bahwa shalawat  boleh sekaligus menjadi wasilah terpenuhinya urusan dunia dan akhirat.

1. Bershalawat untuk hajat dunia tidak salah, bahkan dianjurkan, sebab shalawat adalah doa yang paling mulia.

2. Mengaitkan shalawat dengan permintaan dunia  bukanlah aib atau penghinaan kepada Rasulullah , justru itu bentuk tawassul yang benar.

3. Yang keliru adalah jika seseorang hanya menjadikan shalawat sebatas alat mencari dunia tanpa niat ibadah. 

Maka, pernyataan  “jangan bershalawat untuk urusan dunia karena malu kepada Rasulullah ” tidak benar.  Dalil jelas menunjukkan sebaliknya: shalawat justru  mengantarkan doa kita kepada Allah , baik untuk urusan dunia maupun akhirat.

Kajian Ulama Tentang  Bersholawat Dengan Lafadz Sholawat Yang Tidak Diajarkan Langsung Oleh Rasulullah SAW

Dasar Syariat Sholawat

Allah SWT secara jelas memerintahkan umat Islam untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW dalam firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Dari ayat ini, kewajiban bersholawat kepada Nabi SAW adalah sesuatu yang disepakati oleh seluruh ulama. Yang kemudian menjadi perbedaan adalah bentuk kalimat sholawat apakah harus sama persis dengan yang diajarkan Nabi SAW, atau boleh dengan susunan lain selama tetap dalam makna mendoakan Nabi SAW. Sholawat yang Diajarkan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW memang mengajarkan beberapa bentuk sholawat, di antaranya  Sholawat Ibrahimiyah yang paling shahih dan utama, sebagaimana biasa dibaca dalam tasyahhud akhir:

 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ 

 (HR. Bukhari-Muslim)

Para ulama menegaskan, sholawat inilah yang paling afdhal, karena diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW.

Apakah Boleh Membuat Redaksi Sholawat Lain?

Pandangan yang Membolehkan

Mayoritas ulama dari kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah, terutama ulama Syafi’iyah dan Malikiyah, Membolehkan menyusun redaksi sholawat dengan lafadz lain, asalkan:

Tidak bertentangan dengan syariat,

Tidak mengandung makna syirik,

Tetap mendoakan Nabi SAW dengan pujian dan doa yang baik.

Imam As-Sakhawi  (ulama Syafi’iyah, murid Ibnu Hajar Al-Asqalani) berkata:

 “Tidak ada bentuk lafadz sholawat yang dilarang, bahkan boleh dengan lafadz apa saja yang mencakup makna sholawat, doa, dan pujian untuk Nabi SAW.”(Al-Qaulul Badi’, hal. 144)

Imam As-Suyuthi juga menegaskan: “Boleh bersholawat dengan lafadz apa saja yang tidak bertentangan dengan syariat. Namun yang paling utama adalah dengan sholawat yang diajarkan Nabi SAW.”(Al-Hawi lil Fatawi, Juz 1)

Pandangan yang Menganggap Bid’ah

Sebagian ulama yang lebih ketat (umumnya dari kalangan Salafi/Wahabi) menilai bahwa sholawat dengan redaksi baru, seperti Sholawat Nariyah, Munjiyat, Jibril, termasuk bid’ah. karena tidak ada tuntunannya dari Nabi SAW.

Mereka berdalil dengan sabda Nabi SAW:

“Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari-Muslim)

Namun, mayoritas ulama membantah bahwa .bid’ah di sini berlaku untuk perkara yang menyalahi syariat, bukan sekadar redaksi doa yang maknanya baik.

4.Contoh Sholawat yang Disusun Ulama

1. Sholawat Nariyah

Dinisbatkan kepada ulama besar Maghrib (Maroko), disebutkan bahwa siapa yang membacanya 4.444 kali akan mendapat kelapangan.

   Lafadznya:

 اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَماً تَامّاً عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

2. Sholawat Munjiyat

 Disusun oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi, biasa diamalkan sebagai doa keselamatan.

3. Sholawat Jibril

   Sangat singkat:   صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ يَا رَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ

Sholawat ini disusun oleh para ulama sebagai bentuk dzikir pendek.

Dalil Ulama yang Membolehkan

Kaedah Fiqh;  “Al-Ashlu fil Ad’iyah al-Ibahah” (Hukum asal dalam doa adalah boleh).

Imam Nawawi. berkata: “Bersholawat kepada Nabi SAW hukumnya sangat dianjurkan, dan boleh dengan lafadz apa saja.”  (Al-Adzkar, hlm. 59)

Imam Ibn Hajar Al-Haitami. (ulama Syafi’i):  “Boleh membuat bentuk sholawat baru, karena pada dasarnya itu termasuk doa, sedangkan doa tidak dibatasi bentuk tertentu.” (Al-Fatawa al-Hadithiyyah, hal. 147)

Sholawat yang diajarkan Nabi SAW (seperti Sholawat Ibrahimiyah) adalah yang paling utama dan afdhal.Sholawat lain seperti Sholawat Nariyah, Munjiyat, dan Jibril tidak dianggap bid’ah sesat oleh mayoritas ulama, karena hakikatnya hanyalah doa dan pujian kepada Nabi SAW, meskipun tidak diajarkan langsung oleh beliau.Sebagian ulama ketat (khususnya Salafi) menganggapnya bid’ah, namun dalam kategori bid’ah tambahan (bukan bid’ah sesat), karena maknanya masih baik dan tidak bertentangan dengan syariat. Umat Islam bebas membacanya, asal tidak meyakini lebih afdhal daripada sholawat yang diajarkan Nabi SAW. Apakah Abang mau saya buatkan juga perbandingan ringkas dalam bentuk tabel antara pandangan ulama yang membolehkan dan yang melarang, supaya lebih mudah dipahami?

======================================================================

Bersholawat Untuk Meminta Hajat Dunia

Sholawat adalah doa untuk Nabi Muhammad  yang diperintahkan langsung oleh Allah.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.”  (QS. Al-Ahzab: 56)

Ulama sepakat bahwa sholawat adalah ibadah yang agung

Imam Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim  menjelaskan bahwa ayat ini adalah perintah yang menunjukkan keutamaan besar sholawat, bahkan menjadi sebab turunnya rahmat Allah.

Boleh membaca sholawat untuk hajat dunia dan akhirat

Banyak ulama menyebutkan bahwa sholawat termasuk asbab ijabah ad-du’a (sebab terkabulnya doa). Karena itu, menjadikan sholawat sebagai wasilah (perantara) dalam berdoa untuk urusan duniawi—seperti rezeki, cita-cita, jodoh, atau dimudahkan urusan dibolehkan dan dianjurkan.

Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam Jala’ al-Afhām berkata:

“Sholawat kepada Nabi  menjadi sebab doa dikabulkan. Barangsiapa yang menjadikan awal doanya sholawat dan penutupnya sholawat, maka doa itu sangat mungkin dikabulkan oleh Allah.”

Imam Nawawi dalam Al-Adzkār juga menganjurkan membaca sholawat ketika berdoa, karena itu lebih mustajab. Sholawat adalah bentuk tawassul yang disepakati. Ulama menjelaskan bahwa bertawassul dengan sholawat adalah bagian dari amal yang sahih, sebab ia adalah ibadah yang jelas diperintahkan. Dengan bersholawat, seorang hamba sedang menambah amal kebaikan yang dengannya Allah turunkan rahmat, lalu rahmat itu menjadi jalan terkabulnya doa.

 Dalil Hadits tentang Keutamaan Sholawat

Rasulullah  bersabda:

 كُلُّ دُعَاءٍ مَحْجُوبٌ حَتَّى يُصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ 

“Setiap doa itu terhalang (tidak naik), hingga dibacakan sholawat atas Nabi .”

 (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman, hasan)

Dalam riwayat lain, Ubay bin Ka’b r.a. bertanya kepada Rasulullah  tentang memperbanyak sholawat: Rasulullah  menjawab: “Jika demikian, cukup untuk menghilangkan kesusahanmu dan Allah mengampuni dosamu.”  (HR. Tirmidzi, hasan sahih)

Dari sini dipahami: memperbanyak sholawat bisa mengangkat kesusahan hidup, memberi jalan keluar masalah dunia, sekaligus menghapus dosa. Membaca sholawat untuk memohon hajat dunia dan akhirat hukumnya boleh bahkan dianjurkan, karena:

Sholawat adalah perintah langsung dari Allah (QS. Al-Ahzab: 56).

Sholawat menjadi sebab doa lebih cepat dikabulkan (Ibn Qayyim, Imam Nawawi).

Hadits-hadits sahih menunjukkan sholawat mengangkat kesusahan dan membuka pintu rahmat.

Cara terbaik:

 Awali doa dengan hamdalah, kemudian sholawat.

 Sampaikan hajat atau permohonan.

 Akhiri dengan sholawat kembali.

 Inilah adab doa yang paling afdhal menurut ulama.

 =========================

Bersholawat untuk hajat Dunia

Tidak ada larangan dalam Al-Qur’an maupun Hadits untuk membaca sholawat dengan tujuan agar doa duniawi dikabulkan. Justru ulama menegaskan bahwa sholawat adalah salah satu kunci terkabulnya doa  baik untuk urusan dunia maupun akhirat.

Allah Ta’ala berfirman:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُم

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuk kalian.”  (QS. Ghafir: 60)

Ayat ini bersifat umum: Allah memerintahkan hamba-Nya berdoa untuk apa saja (dunia & akhirat). Tidak ada pembatasan hanya doa akhirat.

Rasulullah  bersabda:

كل دعاء محجوب حتى يصلى على النبي 

 “Setiap doa itu terhijab (tertahan) hingga dibacakan sholawat kepada Nabi .”

 (HR. At-Thabrani, al-Baihaqi – hasan)

Ini menunjukkan sholawat justru syarat terkabulnya doa, bukan malah dilarang dijadikan wasilah untuk hajat.

Kisah Sahabat tentang Sholawat untuk Hajat

Dalam hadits Ubay bin Ka‘b r.a.:

Ubay berkata kepada Rasulullah :

 “Wahai Rasulullah, aku memperbanyak doa untukmu. Berapa banyak aku harus menjadikan sholawat untukmu?” Rasul menjawab: “Terserah engkau.”

Ubay bertanya lagi: “Jika aku jadikan seluruh doaku untukmu (hanya membaca sholawat)?” Rasulullah  menjawab: “Kalau begitu, cukuplah untuk menghilangkan kesusahanmu dan Allah akan mengampuni dosamu.” (HR. Tirmidzi, hasan sahih)

Dari hadits ini jelas: sholawat bisa menjadi doa itu sendiri, bahkan bisa mengangkat kesusahan dunia (urusan duniawi).Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah (Jala’ al-Afhām):

“Sholawat atas Nabi  adalah sebab doa dikabulkan dan kesusahan dihilangkan.”

Imam Nawawi (Al-Adzkar):

“Dianjurkan bagi orang yang berdoa untuk memulai dengan hamdalah dan sholawat kepada Rasulullah , lalu menyampaikan hajatnya, kemudian menutupnya lagi dengan sholawat.”

Artinya: sholawat bukan hanya doa akhirat, tapi boleh dijadikan pintu doa dunia.

 Menjawab Pernyataan: “Jangan Sholawat untuk Dunia, Malu pada Rasulullah 

 Pernyataan itu tidak tepat.

Karena:

Tidak ada larangan dari Al-Qur’an maupun Sunnah.

Rasulullah  sendiri menjelaskan sholawat mengangkat kesusahan dunia.

Malah meninggalkan sholawat dengan alasan “malu” bisa menutup pintu terkabulnya doa.

Justru yang benar: sholawat adalah ibadah murni, dan dampaknya Allah turunkan rahmat, memudahkan rezeki, mengangkat kesulitan, dan mengabulkan doa. Membaca sholawat untuk meminta hajat dunia maupun akhirat adalah boleh dan dianjurkan. Pendapat yang melarang dengan alasan “malu pada Rasulullah  tidak ada dasar dalilnya dalam Qur’an maupun Hadits. Dalil-dalil justru menunjukkan sholawat adalah kunci terbukanya doa dan rahmat Allah, termasuk dalam urusan duniawi. jadi, orang yang berkata “jangan sholawat untuk hajat dunia” bisa dikatakan keliru, meski mungkin niatnya untuk menjaga adab. Yang benar: sholawat tetap dianjurkan, lalu kita sandarkan hajat kepada Allah.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  ........Allahuma Sholi Ala Sayidina Muhamad....... Pertanyaan dan jawaban Seputar Amaliyah Sholawat PERTANYAAN : Bagaimana pandangan kita...